
"If a child cannot learn the way we teach,
we must teach him the way he can learn."
Belajar adalah kebutuhan dasar bagi seorang manusia. Seorang manusia yang baik tentunya akan selalu belajar setiap saat. Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar. Dengan belajar maka manusia dapat berkembang lebih jauh daripada makhluk-makhluk lainnya, sehingga ia terbebas dari kemandegan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi. Boleh jadi karena kemampuan berkembang melalui belajar itu pula, maka manusia secara bebas dapat mengeksploitasi, memilih, dan menetapkan keputusan-keputusan penting untuk kehidupannya.Pada umumnya, para ahli psikologi belajar khususnya mereka yang tergolong “cognitivist” (ahli sains kognitif) sepakat bahwa hubungan antara belajar, memori dan pengetahuan itu sangat erat dan tidak mungkin dipisahkan. Memori yang biasanya kita artikan sebagai ingatan itu sesungguhnya adalah fungsi mental yang menangkap informasi dari stimulus, dan ia merupakan “storage” system, yakni system penyimpanan informasi dan pengetahuan yang terdapat di dalam otak manusia.
Namun, dalam belajar kadang kita mengalami hambatan yang menyebabkan kita tidak dapat mencapai tujuan belajar itu sendiri. Hambatan-hambatan tersebut dapat terjadi dalam bentuk lupa, jenuh dan kesulitan-kesulitan dalam belajar.
Beberapa teori tentang “proses terjadinya lupa”,. Segala sesuatu yang kita alami secara langsung akan menjadi memori dalam otak kita. Apa yang kita ingat, disimpan di bagian tertentu dalam otak. Apabila materi yang diingat ini sudah tidak terpakai, sehingga otak menganggapnya barang “sudah tidak berguna”, maka dengan proses metabolisme yang dijalankan otak, materi itu akan terhapus.
Teori lain mengatakan kalau materi itu tidak lenyap begitu saja, tetapi hanya berubah secara sistematis. Bisa jadi materi itu hanya kita ingat samara-samar, sehingga akhirnya kita tidak lagi ingat aslinya, hanya mengingat bagian yang menonjolnya saja dari materi tersebut.
Lupa juga bisa terjadi karena adanya hambatan. Dalam hal ini ada 2 jenis, yaitu:
1. Hambatan Retroaktif, dimana materi yang baru terjadi menghambat materi yang sebelumnya.
2. Hambatan Proaktif, dimana, materi yang lama menghambat materi yang baru.
Perasaan jenuh dalam belajar sering dikeluhkan para pebelajar dalam setiap kesempatan. Di satu sisi pebelajar harus belajar dengan giat dan memahami pelajaran dengan sebaik-baiknya, apalagi menghadapi ujian, tetapi di pihak lain pebelajar tersebut terserang kejenuhan. Kondisi ini membuat pebelajar kurang bergairah dan bersemangat dalam belajarnya serta timbul perasaan khawatir, takut tidak lulus ujian.
Secara manusiawi memang kejenuhan bisa menimpa setiap orang, termasuk pebelajar yang sedang belajar. Dengan kata lain, kejenuhan tidak membedakan umur dan status. Untuk itu, pebelajar apabila terserang perasaan jenuh seharusnya cepat disikapi dengan baik, jangan dibiarkan begitu saja. Dalam hal ini pebelajar harus bertanya kepada diri sendiri. Mengapa saya akhir-akhir ini mengalami kejenuhan dalam belajar?
Pebelajar perlu mengadakan introspeksi (melihat ke dalam diri sendiri) atau perenungan terhadap kondisi yang sedang dialami (kejenuhan belajar). Kejenuhan tidak datang begitu saja tanpa ada latar belakangnya. Dengan memahami latar belakang dari kejenuhan, pebelajar bisa melakukan tindakan yang tepat untuk mengusir atau mengatasi kejenuhan yang dialami. Dengan terselesaikannya masalah kejenuhan ini, diharapkan pebelajar bisa belajar dengan baik dan mencapai prestasi belajar yang memuaskan.
Jenuh dalam belajar berarti belajar dalam waktu tertentu tetapi tidak mendatangkan hasil. pebelajar membaca, tetapi pebelajar tidak memahami apa yang Pebelajar baca. Pebelajar mendengar, tetapi pendengaran pebelajar hanya sebatas mendengar saja, tidak merekam, masuk kiri keluar kanan. Singkatnya, ketika pebelajar dalam keadaan jenuh, akan sangat sulit untuk mencapai kondisi konsentrasi, artinya tidak ada kerjasama yang baik antara indra yang terlibat dalam belajar dengan otak.
Muhibbin Syah menyatakan bahwa penyebab kejenuhan yang paling umum adalah keletihan yang dialami oleh pebelajar, karena keletihan dapat menjadi penyebab munculnya perasaan bosan pada pebelajar yang bersangkutan. Menghindari keletihan adalah hal yang paling disarankan, agar pebelajar ketika belajar berada pada kondisi yang benar-benar siap belajar. Kemudian jika keletihan telah melanda pebelajar, apa yang harus dilakukan atau jika hal itu belum muncul, apa yang bisa dilakukan untuk menghindarinya. Muhibbin Syah menyarankan beberapa kiat yang dapat dilakukan, yaitu :
a) melakukan istirahat dan mengkonsumsi makanan dan mimuman yang bergizi dengan takaran yang lebih.
b) penjadwalan ulang kegiatan rutin pebelajar.
c) pengubahan atau penataan kembali lingkungan belajar.
Untuk mengatasi kejenuhan belajar, ada beberapa upaya yang dapat dilakukan, antara lain:
Pertama, cari manfaat dari belajar yang dilakukan. Belajar yang dilakukan oleh pebelajar pasti ada manfaatnya. Dengan belajar pebelajar bisa memperoleh ilmu pengetahuan. Bisa menambah pertemanan dan mempererat tali silaturahmi di antara pebelajar. Menambah wawasan dan pengalaman hidup. Singkatnya, manfaat belajar, yaitu untuk persiapan masa depan yang lebih cerah. Bukankah dengan ilmu hidup jadi mudah? Semakin tahu manfaat belajar, akan semakin bersemangat untuk belajar dan menghilangkan kejenuhan.
Kedua, lakukan belajar dengan perasaan senang dan kreatif. Suatu pekerjaan yang dilakukan dengan perasaan senang akan menimbulkan semangat. Begitu juga dengan kegiatan belajar, apabila merasa senang, pebelajar akan belajar dengan gairah dan bersemangat. Lama kelamaan perasaan jenuh akan terkikis dan hilang. Untuk itu senangi apa yang pebelajar kerjakan (belajar) dan kerjakan apa yang pebelajar senangi. Di samping itu, selama melakukan kegiatan belajar, pebelajar juga harus kreatif. Belajar dengan kreatif akan menimbulkan keasyikan dan kepuasan pribadi sehingga jauh dari perasaan jenuh atau bosan.
Ketiga, menilai guru dari segi positifnya. Guru sebagai manusia biasa tidak lepas dari segala kelebihan dan kekurangan. Menghadapi guru yang sedang mengajar di kelas, pebelajar seyogyanya menyikapi guru dengan sikap terbaik. Cari sisi positif atau kebaikan yang ada pada guru sehingga pebelajar merasa tertarik dan senang terhadap guru. Apabila sudah menyenangi gurunya, maka cenderung akan menyenangi pelajarannya. Setiap bertemu dengan guru, pebelajar bisa diskusi, bertukar pendapat dan informasi untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan.
Keempat, menganggap bahwa belajar itu sebagai kebutuhan yang mendesak. Belajar jangan sampai hanya untuk menggugurkan kewajiban, artinya belajar selain sebagai kewajiban, juga harus menjadi kebutuhan yang harus segera dipenuhi. Kalau belajar itu sebagai suatu kebutuhan, pebelajar akan berusaha untuk belajar dengan giat. Misalnya, kita butuh makan, kita akan mencari makanan. Begitu juga halnya dengan belajar. Ke mana dan kapan pun pebelajar akan belajar terus karena butuh. Bukankah kita dianjurkan untuk menuntut ilmu walaupun sampai ke negeri Cina sekalipun?
Kelima, lakukan diskusi kelompok. Untuk menambah gairah belajar, pebelajar bisa mengajak teman-teman untuk melakukan kegiatan belajar bersama. Melalui diskusi kelompok atau belajar bersama, pebelajar bisa tukar pendapat, pengalaman, dan informasi di antara teman. Dalam kondisi kebersamaan biasanya akan terhindar dari kejenuhan. Anggota kelompok bisa terbentuk atas dasar kesepakatan bersama di antara pebelajar..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar